23 Januari 2015

LIBURAN AWAL TAHUN 2015

Liburan kali ini sudah direncanakan sebelumnya, meski saat itu belum memastikan jadi atau tidaknya karena beberapa hal, salah satunya adalah bisa tidaknya suami mengambil cuti kerja.
Salah satu tujuan liburan kali ini adalah agar Kayla lebih banyak mengetahui daerah-daerah di Indonesia meski sampai sekarang masih di seputar Pulau Jawa saja. Setelah tahun 2013 Kayla diajak ke Jakarta-Bandung, tahun 2014 ke daerah Jawa Timur - Jawa Tengah (Magetan, Solo, Semarang), kali ini giliran ke wilayah Situbondo-Bondowoso-Banyuwangi dengan titik tujuan obyek-obyek wisata di daerah tersebut. Ada beberapa destinasi yang kami tuju antara lain kawah Ijen (Bondowoso), Pantai Boom, Pulau Merah, Pantai Grajagan, Wisata Bedul (Banyuwangi) dan Pantai Pasir Puktih Situbondo.

Kami berangkat hari Kamis tanggal 1 Januari 2015 sekitar jam tujuh malam. Kami berangkat berlima, suami, aku, Kayla, Athiyah dan Hana. Sebenarnya kami mau berangkat sekitar jam 4 sore tapi ternyata hujan turun sangat deras disertai petir, sehingga kami pun menunda waktu keberangkatan. Perjalanan pun alhamdulillah sangat lancar. Untuk menjaga kondisi fisik agar tidak terlalu capek sampai Situbondo kami pun mencari hotel untuk istirahat. Sampai di hotel sekitar jam 12 malam. Namun kami tidak langsung istirahat karena Athiyah yang di sepanjang perjalanan tidur justru tidak mau tidur dan malah ngajak bermain-main. Baru sekitar jam setengah dua malam baru bisa tidur.

Esoknya kami sempat ke pasar yang dekat dengan hotel. Gerimis pun masih setia mengikuti jalan-jalan pagi kami. Setelah balik ke hotel dan sarapan, kami pun beres-beres dan siap melanjutkan perjalanan. Kami sempat foto-foto dulu di depan masjid agung dan alun-alun Situbondo, sekedar untuk kenang-kenangan. Selama di perjalanan Kami begitu menikmati suasana alam menuju Kawah Ijen. Seolah-olah kembali ke desa, memandang kanan kiri sawah dan tubuh-tumbuhan yang menghijau.

Di tengah perjalanan kami sempat istirahat di Cafe Ijen. Jangan bayangkan cafenya seperti cafe di kota-kota. Cafenya ya seperti warung biasa. Ada lesehannya dan ada pula yang duduk di kursi. Pemandangan di sekitar cafe sungguh indah sehingga kami pun tak menyia-nyiakan saat itu untuk berfoto. Kami sekedar minum teh dan makan bakso sambil menghirup udara segar. Banyak juga pengunjung yang singgah, silih berganti. Kami pun mencari informasi ke sesama pengunjung yang singgah dan juga pada mbak-mbak yang di cafe.



Setelah beberapa saat singgah disana, kami pun melanjutkan perjalanan. Masih agak jauh juga perjalanan yang harus ditempuh. Kami melewati beberapa pos jaga. Sampai juga kami di kaki gunung Ijen. Rintik-rintik gerimis menyambut kedatangan kami. Sekedar untuk diketahui saja Kawah Ijen merupakan salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang.  Terletak diantara Kabupaten Bondowoso dan kabupaten Banyuwangi. Ketinggian 2443 dpl. Kawah Ijen merupakan pusat danau kawah terbesar di dunia. Untuk mencapai kawah Gunung Ijen kita masih harus berjalan 3 km dari pos akhir Paltuding. Saat itu banyak juga pengunjungnya. Ada beberapa tenda terpasang di area tertentu. Di sekitar  pintu gerbang utama ada beberapa warung makanan dan juga warung yang menjual keperluan pendakian. Namun, saat itu pendakian ditutup sementara karena cuaca yang kurang bersahabat.  
Setelah beberapa saat menikmati suasana disana, kami pun melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Kalau saat berangkat kami lewat jalur Bondowoso – Wonosari – Tapen – Sempol – Paltuding, Kali ini dari paltuding kami melewati desa Banyusari Kecamatan Licin menuju Banyuwangi.
Kami sudah janjian dengan teman suami yang asli Banyuwangi. Janji ketemuan di rumah makan Boga daerah Ketapang. Setelah istirahat dan makan siang disana kami melanjutkan perjalanan ke rumah teman suami sewaktu SMP. Beberapa saat ngobrol ngalor ngidul tak terasa waktu sudah setengah lima sore. Kami beramai-ramai menuju Pantai Boom. Tidak jauh perjalanannya dari rumah teman kami. Karena letaknya tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di Kampung Mandar sehingga mudah dijangkau. Pantainya tidak kalah indahnya dengan pantai di Bali. Pantai sudah ditata sedemikian rupa sehingga wisatawan cukup betah disini. Pedagang kaki lima sudah ditata di tempat tertentu. Saat itu pengunjung sangat ramai. Sebenarnya kami masih ingin berlama-lama di pantai ini, tapi waktu sudah menjelang maghrib sehingga kami pun bergegas meninggalkan pantai ini menuju ke Masjid Agung Banyuwangi. Setelah sholat Maghrib kami sempatkan foto di Taman Sritanjung sambil menunggu teman yang tinggal tidak jauh dari situ. Setelah itu kami pun diajak mampir ke rumahnya.      

Perjalanan hari itu diakhiri dengan menerima tawaran menginap di rumah teman, tapi rumahnya ternyata masih jauh dari pusat kota. Tepatnya di desa Purwoasri. Teman kami sering pula menginap di rumah bila sedang ada acara ke Surabaya. Selain itu, menurut informasi dari teman kami, Pulau Merah yang kami tuju lebih dekat lokasinya dari desa tersebut. Setelah dipikir-pikir, akhirnya kami mengiyakan permintaannya agar kami menginap. Karena kalau menginap di hotel biasanya paginya tidak segera bergegas dan masih males-malesan. Belum lagi perjalanannya yang masih jauh lagi ke Pulau Merah yang ada di bagian selatan Banyuwangi, sekitar 60 km dari pusat kota. Untuk menuju kerumah teman kami  harus melewati hutan karet yang gelap banget dan guyuran hujan yang begitu deras.

PAGI DI DESA PURWOASRI
Setelah bangun tidur dan sarapan, ada dua teman yang datang menemui kami. Masih sama, teman suami waktu masih pondok pesantren. Sebelum berangkat ke Pulau Merah, sambil menunggu teman yang juga mau gabung, kami pun keliling-keliling di sekitar daerah situ, melihat-lihat sawahnya teman kami dan melihat suasana di desa tersebut. Kami pun sempat mampir ke rumah salah seorang teman yang juga mau turut ke Pulau Merah. Setelah formasi lengkap kami pun berangkat dengan dua mobil, 6 orang dewasa, 1 remaja, 4 anak-anak...Rameee...

Ternyata perjalanan ke Pulau Merah masih agak jauh juga. Pulau Merah terletak di Desa Sumber Agung Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Rute kesana termasuk mudah dijangkau. Di setiap persimpangan selalu ada penunjuk jalan disertai dengan berapa kilometer lagi menuju kesana. Jalannya juga cukup baik untuk dilalui meski tidak terlalu lebar.
Setelah sekitar satu jam lebih di atas mobil, kami pun sampai. Parkir sudah hampir penuh. Tempat parkir sudah disediakan di bawah pepohonan. Ternyata, pantai ini juga tak kalah indah. Pulau Merah yang membuat kita penasaran itu ternyata bentuknya menyerupai pegunungan yang ada di tengah pantai. Pasir putihnya menghampar di sepanjang bibir pantai , di bagian timur berjejer gunung-gunung. Mengapa disebut Pulau Merah? Setelah cari tahu sana sini ternyata gunung yang di tengah pantai itu tanah dan pasirnya berwarna merah.
Terlihat pula ada wisatawan yang berselancar  disana. Disediakan juga persewaan papan selancar. Disediakan juga tempat berjemur di sepanjang pantai. Kami juga menyewa tempat berjemur tersebut per 2 jam dua puluh ribu. Tapi kami tidak berjemur karena kulit kami sudah cukup gosong hahahaha... malah justru tempat itu kami jadikan tempat berteduh sambil menunggu Kayla dan Mbak Hana turun berbasah basah di pantai.
 Ada yang bilang Pulau Merah ini Pantai Kuta nya pulau Jawa. Disini dilengkapi juga petugas pengawas pantai atau istilahnya baywatch yaa...hihihi...bertugas mengawasi pengunjung yang berenang, begitu juga petugas kebersihannya juga ada.
Sekitar 2 jam kami menikmati keindahan Pulau Merah. Kayla dan Hana pun “turun” ke pinggir pantai bermain dengan ombak, air dan pasir. Athiyah masih takut-takut diajak turun. Akhirnya Athiyah aku ajak duduk-duduk di  tenda sambil makan bakso dan minum es degan... sesekali juga aku ajak gabung dengan Kayla sebentar-sebentar. Tapi dia takut ketika ombak datang menyapu pantai...itu karena kami mesti teriak kegirangan, tapi justru Athiyah menunjukkan ekspresi ketakutan.
Sebelum meninggalkan pantai kami sholat dulu di mushola. Setelah sholat selesai, tiba-tiba mendung sangat tebal disertai hujan dan angin bertiup kencang. Aku yang sudah ada di dekat mobil duluan pun panik mencari Kayla yang waktu itu sholat bersama Bapaknya. Ternyata Kayla sudah ada di dekat mobil. Hana yang pergi membeli kaos pun segera berlari menuju mobil. Semua pengunjung panik dan bergegas meninggalkan pantai. Keadaan itu terjadi begitu tiba-tiba. Yang ada dalam benak kami waktu itu khawatri kalau ada tsunami, mengingat di pantai itu beberapa tahun yang lalu pernah juga terjadi tsunami. Para petugas pantai pun sibuk memberi peringatan kepada pengunjung agar segera meninggalkan pantai. Semua berebut untuk bisa segera keluar dari lokasi parkir. Syukurnya, mobil kami dekat dengan pintu keluar sehingga termasuk bisa cepat keluar lokasi. Kami membayangkan bagaimana yang waktu itu masih berenang di pantai, apalagi yang masih baru datang... tapi bagaimanapun juga keselamatan jiwa lebih dari segalanya. Alhamdulillah ... kami ppun bisa keluar dengan selamat.
Setelah itu kami pun mencari tempat untuk  makan siang. Kami menemukan  warung di tengah sawah. Kami pun memutuskan untuk makan disitu sembari menikmati semilir angin sawah. Setelah makan siang perjalanan dilanjutkan ke kebun jeruk milik teman. Disana kami diajak memetik buah jeruk.
Perjalanan berlanjut ke Pantai Grajagan yang terletak di bagian selatan kota Banyuwangi kira-kira sekitar 52 km dari kota. Terletak di desa Grajagan kecamatan Purwoharjo.
Waktu sudah sangat sore sehingga pengunjungnya tinggal beberapa orang saja dan beberapa orang juga yang main selancar. Jadi suasana sepi, yang terdengar hanya debur ombak yang menyapu pantai. Ombaknya cukup besar dipantai ini sehingga sangat cocok juga bagi para peselancar, namun untuk peselancar pemula tidak direkomendasikan untuk berselancar disini . kalau hanya di bibir pantai boleh lah...tapi kalau di tengahnya dikhawatirkan tidak bisa menghadapi ombak yang menurut informasi yang saya dapat panjang ombaknya bisa mencapai 1 km, kecepatan ombak bisa mencapai 4 m. Di sekitar pantai disediakan juga penginapan.

Entah kenapa Athiyah tidak terlalu nyaman di pantai ini, padahal kami sangat ingin menikmati ombak yang besar. Athiyah seperti ketakutan mendengar suara ombak. Aku pun mengajak Athiyah menjauh dari pantai untuk menenangkannya.
Kami pun tidak terlalu lama di pantai itu. Kami pun melanjutkan ke wisata mangrove blok Bedul.

Terletak di desa Sumberasri kecamatan Purwoharjo, diantara pantai grajagan dan alas purwo serta Plengkung. Disini kami bisa melihat ribuan pohon mangrove atau bakau. Hutan Mangrove ini menaungi perairan blok Bedul. Jalan menuju wisata merupakan jalan hotmix. Dari pintu masuk Bedul kami berjalan kaki sekitar 5 menit menuju dermaga sepanjang 225 meter. Disepanjang dermaga kanan kiri penuh denga tanaman mangrove. Di ujung dermaga ada perahu yang digerakkan dengan mesin diesel. Sayangnya kita tidak bisa naik perahu karena sudah terlalu sore, tidak ada petugas yang menjalankan perahunya. Namanya perahu Gondang gandung.
Wisata Bedul ini sangat cocok untuk wahana pendidikan sekaligus rekreasi. Di sini akan
ditemukan beberapa jenis ikan dan tumbuhan, ada ikan bedul sejenis ikan gabus yang bersirip (yang menjadi nama tempat wisata ini), ikan kerapu, ikan putihan dll. Ada juga kepiting. Pas kita kesana ada nelayan yang sedang mencari kepiting. Ada juga berbagai fauna yang lain, namun karena kita kesana sudah senja hari jadi gak bisa melihat mereka-mereka...
Setelah dari sana  waktu sudah gelap, maghrib pun tiba. Kita menuju ke rumah teman kami dimana kami menginap kemarin. Kami pun berpamitan kepada tuan rumah. Kami memutuskan menginap di Banyuwangi di Hotel Selamet. Maunya di hotel Santika,  tapi ternyata masih belum buka karena belum selesai proses akhir pembangunannya.
Paginya setelah sarapan kami keliling kota Banyuwangi sambil mencari nasi khas banyuwangi, namun setelah muter-muter bolak balik gak menemukannya...sekali ketemu eee... sudah habis... belum rejeki. Oh ya...saat itu juga ketepatan ada peringatan Maulid Nabi SAW, namanya ndog ndog-an... . ada iring-iringan naik mobil ada juga iring-iringan dengan naik becak. Semuanya dihiasi dengan pohon pisang  atau pohon-pohonan dan telur yang dihias-hias.
Kemudian  mengantar Kayla cari pernak-pernik, terus mampir ke pasar membeli hiasan ndog-ndog an tadi,  juga beli nangka kupas. Kemudian lanjut perjalanan pulang. Eee...tanpa rencana mampirlah kami di Pantai Pasir Putih Situbondo, tapi tujuan utamanya menikmati makan ikan bakar di pinggir pantai. Gak terlalu menikmati suasana pantai, tapi menikmati makannya. Kami juga membeli baju untuk oleh-oleh disini, tadinya mau beli di Banyuwangi tapi tidak menemukan tempatnya. Di Banyuwangi hanya beli oleh-oleh berupa makanan seperti bagiak, kripik-kripik dan roti.
Lanjut perjalanan menuju Gresik...

Alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat      

LETTER FROM MY GIRLS...


LIBURAN AKHIR TAHUN 2014













11 Desember 2014

BCG...

Ketika membuka-buka file foto, aku tertarik pada foto berikut ini...

yaitu saat Athiyah berusia 2 bulan. Ketika itu Athiyah mendapat imunisasi BCG dan beberapa hari setelahnya bekas suntikan di lengan kanannya bengkak yang menurutku cukup besar karena diameternya hampir 1,5 cm. Setelah konsultasi ke bidan yang juga sepupu saya sendiri, hati ini lebih tenang meskipun sepupu saya juga agak kaget kok bisa sampai bengkaknya sebesar itu. Tapi Athiyah sepertinya biasa saja alias tidak merasa sakit saat bagian yang bengkak aku pegang pelan-pelan.
Selain itu akupun cari informasi tentang suntikan vaksin BCG itu yang memang bermanfaat mencegah TBC yang paling efektif.

Mengapa penyuntikan dilakukan di lengan ? tidak di paha saja?
Ternyata kalau disuntiknya di paha lebih sulit dilakukan karena lapisan lemak di bawah kulit paha lebih tebal sehingga dikhawatirkan kegagalannya lebih besar karena vaksin sulit menembus lapisa lemak. Untuk teknik penyuntikannya pun berbeda dengan suntik yang langsung ke dalam otot. Untuk BCG ini penyuntikannya hanya di bawah kulit.

Keberhasilan suntikan BCG berupa bisul kecil tapi tentu beda dari bisul yang biasanya. Bisul ini awalnya berupa bentol besar lalu berbentuk seperti bisul yang ada nanahnya. Nah, bentol besar pada Athiyah ini terlalu besar sehingga yang melihatnya saja agak ngeri.

03 Desember 2014

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BICARA ATHIYAH

Pada saat ikut Posyandu bulan November kemarin, saat DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang), kami disarankan untuk semakin intens “melatih” Athiyah dalam berbicara. Meski menurut pengamatanku dan aku kolaborasikan dengan informasi tumbuh kembang anak, kemampuan bicara Athiyah masih dalam taraf normal.
Untuk perkembangan bicara anak usia 12 – 18 bulan (Athiyah kini usia 17 bulan) menurut ahli sebagai berikut:
Mampu mengucapkan  antara 1 – 5 kata yang agak jelas. Kosa kata Athiyah saat ini antara lain: mama, papa, asuk (masuk), ulis (nulis), abis (habis).  Ada juga beberapa kata yang masih kurang jelas tapi sering diucapkan, antara lain: aem (makan), au (mau), num num (minum), uka (buka), apak (bapak), acak (kakak), anti (ganti baju), atit (sakit), kalao kata yng ini ngomongnya sambil nyanyi lagunya Cita Citata. Ketika orang disekitarnya nyanyi lagu tersebut, Athiyah akan menyaut : “atit...atit...” sambil memegang dadanya...
Karena masih sangat terbatas kosa kata yang dikuasainya maka seringkali menggunakan jarinya untuk menunjuk sesuatu yang dimau sebagai pengganti kata-kata yang belum bisa diucapkannya. Misalnya : Athiyah ingin digendong  ke kamar maka dia akan menunjuk ke arah kamar sambil ngomong  “tah...tah...” . Atau ketika Athiyah ingin keluar jalan-jalan maka Athiyah akan menunjuk jilbab agar ibu atau tante pakai jilbab dan keluar  rumah.
Kalau ibu baru pulang kerja Athiyah langsung memegang bahkan kadang menarik kaos kaki ibu (agar dilepas maksudnya) dan menarik  jilbab agar dilepas juga.
Untuk stimulasi bicara Athiyah, kami, terutama aku selalu mengajaknya bicara dalam berbagai kesempatan, bahkan saat prosesi mandi. Juga dengan sering menyebut nama-nama anggota tubuhnya dan nama-nama benda yang ada di sekitar kita. Tapi seringnya kalau Athiyah disuruh menirukan kata dia hanya tersenyum atau tertawa. Tapi kalau tidak disuruh malah kadang menirukan omongan kita, tentunya kata yang tidak sulit bagi dia.
Selain itu meski kita tahu kemampuan bicaranya masih terbatas, saat Athiyah bicara sesuatu yang tidak/kurang jelas maksudnya, tetap aku usahakan untuk membetulkannya, dan aku minta anaknya untuk mengulangnya meski kadang tidak mau. Pernah coba aku tidak penuhi keinginannya karena tidak mau mengulang kata-kata yang kurang jelas, malah Athiyah marah dan menangis.
Mengapa anak bisa terlambat bicara?
Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, antara lain : Pertama, anak-anak yang diasuh oleh orangtua/pengasuh yang pendiam sehingga kurang terstimulasi kemampuan bicaranya. Bisa juga karena tidak mau repot, sang ibu terlalu banyak membiarkan anaknya hanya menonton tv sehari-harinya. Kedua, oarangtua selalu memenuhi keinginan anak ketika anak minta sesuatu tanpa bicara hanya dengan menunjuk-nunjuk saja. Ketiga, bisa jadi karena anak-anak yang diatas usia 1 tahun masih makan makanan yang dihaluskan. Mengapa demikian? Karena organ bicara dan organ untuk makan sama sehingga kalau masih makan makanan halus berdampak juga pada kurang terlatihnya otot bicara. Keempat, adanya gangguan perkembangan seperti ADHD, austisme, mental retarded, dll. Kelima, adanya keterbatasan fisik seperti bibir sumbing dan gangguan pendengaran.